Kamis, 10 Juli 2014

kolaka 7

PROMO BULAN MEI 2014

Nikah adat 01 16 DESKOLAKA, SULTRA ONLINE

 

Penulis : SISWANTO AZIS

Suku Moronene, adalah suku Pertama atau Tertua di Sulawesi Tenggara. Populasi orang Moronene diperkirakan sekitar 10.000 orang.

Istilah "moronene" berasal dari kata "moro" yang berarti "serupa" dan "nene" yang berarti "pohon resam". Pohon Resam adalah sejenis tanaman paku, yang banyak ditemukan di daerah ini. Kulit batangnya bisa dijadikan tali, sedangkan daunnya adalah pembungkus kue lemper. Resam hidup subur di daerah lembah atau pinggiran sungai yang mengandung banyak air. Daerah pemukiman suku Moronene biasanya di daerah yang banyak kawasan sumber air.

Para pakar anthropolog berkeyakinan bahwa orang Moronene ini adalah penghuni pertama Wilayah Sulawesi Tenggara. Suku Moronene tergolong suku bangsa Proto Malayan (Melayu Tua) yang datang dari Hindia Belakang pada zaman prasejarah atau zaman batu muda, kira-kira 2.000 tahun sebelum Masehi. Namun sekitar abad 18, mereka tergusur oleh semakin berkembangnya penduduk lain yang juga menghuni wilayah ini, yaitu suku Tolaki, yang mendesak mereka masuk ke pedalaman Sulawesi Tenggara.

Pada awalnya mereka adalah bangsa nomaden, yang selalu berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, hingga akhirnya mereka menetap di kawasan Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai.

Sebuah peta yang dibuat oleh pemerintah Belanda pada tahun 1820 sudah tercantum nama Kampung Hukaea sebagai kampung terbesar suku Moronene, yang saat ini wilayah pemukiman mereka ini masuk dalam areal Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai.

Kampung pemukiman suku Moronene ini tersebar di 7 kecamatan yang berada di kabupaten Buton dan kabupaten Kolaka. Penyebaran orang Moronene ini terdapat juga di kabupaten Kendari yang sekarang berganti nama menajadi Kabupaten Konawe, mereka mengungsi dan bermigrasi akibat gangguan keamanan dari Darul Islam sekitar tahun 1952-1953. Kampung Hukaea, Laea, dan Lampopala, bagia orang Moronene disebut sebagai Tobu Waworaha atau perkampungan tua bekas tempat tinggal para leluhur mereka

- ADAT DAN BUDAYA

Suku Moronene adalah salah satu suku bangsa yang mempunyai beraneka ragam adat istiadat dan kebiasaan yang dijalankan oleh masyarakat sebagai warisan budaya leluhur yang terus menerus dilestarikan sampai saat ini. Salah satu tradisi adat Moronene yang menjadi ciri keunikan dengan suku lain adalah adat perkawinan. Adat perkawinan ini masih tetap di junjung tinggi dan dilaksanakan karena terikat dengan hukum-hukum adat yang wajib ditaati oleh segenap masyarakatnya. Adat perkawinan ini juga merupakan salah satu pencerminan kepribadian atau penjelmaan dari pada suku Moronene itu sendiri dalam memperkaya budaya-budaya di Indonesia.

Moronene sebagai salah satu suku bangsa di Indonesia dengan keanekaragaman suku yang mendiami seluruh pelosok tanah air melambangkan pula keanekaragaman budaya dan keanekaragaman hukum adat yang mengatur perkawinan. Berlakunya hukum adat perkawinan dalam setiap masyarakat atau suku sering berbeda-beda.

Tata cara adat perkawinan antara masyarakat yang satu dengan yang lain, demikian pula adat perkawinan suku moronene memiliki adat perkawinan yang berbeda-beda dengan berbagai suku bangsa di Indonesia akan tetapi dengan adanya perbedaan-perbedaan tersebut justru merupakan unsur yang penting yang memberikan identitas kepada setiap suku bangsa di Indonesia.

Pada Rabu (11/12) , dalam salah satu acara perkawinan yang diselenggarakan secara adat suku Moronene, di Jalan Pahlawan Kabupaten Kolaka, Keluarga Besar Mokole Zainuddin Thahir, SH.M.Kun, yang menikahkan Putrinya Secara adat Moronene.

Dalam proses pelaksanaan adat perkawinan pada sistem adat moronene dibagi dalam 4 Tahap yaitu :
- Tahap Pra nikah ( metiro)
- Tahap Peminangan ( mowindahako)
- Tahap Lumanga
- Tahap Proses Pernikahan

Pesta pernikahan secara adat dinamakan “Mendo’ua”, dalam acara “Mondu’a” ini beberapa rangkaian dilaksananakan. “Mooli Laica” atau membeli rumah yang dilaksanakan oleh mempelai pria menjadi rangkaian awal menuju tujuh prosesi berikutnya. Selanjutnya memasuki tahapan “Melongko” yang berarti mengundang calon pengantin wanita bersama rombongan menuju ke rumah calon mempelai pria. Dalam proses ini terlihat “Tolea” atau pembicara menjadi penghubung antara kedua mempelai untuk menuju tahapan berikutnya.

Setelah prosesi “Melongko”, calon mempelai wanita yang dalam bahasa Suku Moronene di sebut “Tina Niwawa” diantar dari rumah kediamannya menuju ke rumah calon mempelai pria untuk dinikahkan. Proses inilah yang dinamakan “Metiwawa”. Dalam proses ini, dengan menggunakan tandu yang telah dihias sedemikian rupa dengan balutan kain berwarna putih, mempelai wanita duduk di atas kursi dalam tandu tersebut kemudian diarak menuju kediaman dengan diiringi alunan irama pukulan gong.

Setelah tiba di halaman rumah mempelai pria rombongan mempelai wanita disambut oleh keluarga mempelai pria. Acara penyambutan itu dinamakan “Melawa” yang dipandu oleh Tolea dengan bahasa Moronene, mempelai wanita dan rombongannya tersebut diundang memasuki rumah tempat pelasanaan akad nikah.

Namun sebelum masuk ke rumah, mempelai wanita disambut dengaan tarian penyambutan yang disebut “Momaani” yang diperankan oleh dua orang pria dengan parang dan tameng keduanya saling beradu dan sesekali berteriak sambil mengikuti irama musik tradisional yang khas. Tarian ini dimaksudkan sebagai pembuka jalan dan mengawal mempelai wanita menuju rumah mempelai pria.
Setelah itu mempelai wanita dipertemukan dengan mempelai pria dan dipandu oleh Tolea masing-masing mempelai.

Kemudian kedua mempelai menuju tahapan prosesi selanjutnya yang disebut “Mopindai Pali/Sincu” yang artinya menginjakkan kaki pada sebuah kapak yang disimpan dalam sebuah wadah berbetuk segi empat dari yang disebut “Sincu”. Sepertinya proes inilah yang menjadi inti dalam adat perkawinan Suku Moronene. Dengan dipandu “Tolea” yang membacakan mantra-mantra, kaki kanan kedua mempelai disatukan menginjak sebuah kapak kecil dalam wadah Sincu. Dalam proses inilah kedua mempelai menerima sumpah adat yang dinamakan “Tanduale” sebagai bentuk ikrar dan janji kedua mempelai.

Usai melaksanakan sumpah adat, kedua mempelai kemudian menuju pelaminan yang telah disiapkan dan menjalani acara “Melolo”, yaitu makan bersama dalam satu piring. Setelah itu prosesi adat yang terakhir adalah acara “Mompanga”, yaitu kedua mempelai diwajibkan makan sirih sebagai bentuk kepatuhan dan keberanian dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Setelah melewati proses adat tersebut diatas barulah prosesi pengambilan akad nikah secara agama dilaksanakan.

Bagi Dian Eka Lestari, sang mempelai wanita Putri dari “Mokele Zainuddin Thahir, Sh, M.Kun, melangsungkan acara perkawainan dengan rangkaian adat tersebut adalah sebuah kebahagiaan dan sekaligus sebagai kebanggan tersendiri. “Sangat bahagia dan merupakan kebanggan bagi saya, karena dapat melangsungkannya secara adat, mengikuti adat dari bapak dan ibu saya, dan ini juga adalah warisan yang memang harus dipertahankan,” ungkapnya.

Berdasarkan pengamatan diketahui bahwa hubungan kekerabatan pada suku Moronene khususnya di Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara, terlihat sangat kuat dari berbagai persiapan proses adat perkawianan yang akan dilaksanakan, salah satunya persiapan bahan, benda atau alat yang digunakan dalam prosesi adat perkawinan. Dimana benda-benda yang digunakan tersebut merupakan syarat yang wajib dilaksanakan sebagai sebuah simbol yang memiliki makna tersendiri.

Sebagai salah satu produk budaya, simbol benda-benda yang digunakan dalam adat perkawinan merupakan bentuk pengungkapan yang pada prinsipnya bertujuan untuk mengkomunikasikan pikiran dan perasaan masyarakat yang tumbuh dan bekembang dari waktu ke waktu. Salah satu bentuk pengungkapan simbol sebagai produk budaya adalah folklor yaitu yang berbentuk sebagian kebudayaan suatu kolektif yang tersebar dan diwariskan secara turun temurun, di antara kolektif macam apa saja secara tradisional dalam versi yang berbeda.

Makna simbolik benda yang digunakan dalam prosesi adat perkawinan masyarakat suku Moronene, ditinjau dari fungsinya adalah sebagai pemantapan lahir dan batin bagi kedua mempelai, dimana kedua mempelai adalah dua insan yang berlainan jenis dari segala sisi namun sama dalam titik hidup dan kehidupan.

Dilihat dari lahiriahnya makna simbol dari benda-benda dalam adat perkawinan suku Moronene itu, di sesuaikan dengan tahapan-tahapan dalam prosesi adat perkawinan suku Moronene, mengenai bentuk dan jenis benda tersebut telah ditetapkan dalam ketentuan hukum adat suku Moronene yaitu: tahap mongapi (peminangan) disini telah ditentukan benda yang digunakan adalah pinca (piring), rebite (daun sirih), wua (pinang), tagambere (gambir), ahu (tembakau) serta ngapi (kapur sirih). mesampora (masa pertunangan) alat dan bahan yang digunakan pada masa pertunangan adalah sawu (sarung), sinsi wula (cincin emas). Alat dan bahan yang digunakan pada saat montangki (mengantar buah) adalah nilapa (ikan salai yang dibungkus di pelepah pinang), punti (pisang), towu (tebu), nii mongura (kelapa muda), gola (gula merah), tagambere (gambir), wua (pinang), rebite (sirih), kompe (keranjang yang terbuat dari daun agel), duku (nyiru). Molangarako (mengantar kedua pengantin kerumah orang tua laki-laki), adapun benda yang digukan adalah kain putih (kaci), benang putih (bana) dan kelapa (nii), beras (inisa), lesung (nohu), kampak (pali), peti (soronga). Penyerahan pokok adat (langa) sebelum akad nikah dilaksanakan, adapun benda-benda dalam (langa) yaitu karambau (kerbau), sawu (sarung) dan kaci (kain putih) serta empe (tikar yang terbuat dari daun pandan).

Benda – benda adat yang digunakan sesuai pada tahapan dan waktu yang telah dientukan oleh para tokoh adat di atas, tentunya memiliki nilai tersendiri yang sangat bermakna bagi mereka.

Nilai-nilai ini berhubungan dengan hidup dan kehidupan manusia baik secara vertikal dengan sang pencipta maupun secara horizontal dengan sesama manusia. Nilai yang tertuang dalam adat perkawinan suku Moronene adalah :

Pertama nilai religius yang berkaitan erat dengan unsur kepercayaan tentang adanya makhluk gaib, makhluk halus dan roh-roh jahat serta kepercayaan tentang adanya sang pencipta alam dan beserta isinya, yakni Allah SWT.

Kedua nilai estetika menyangkut sikap dan penampilan seseorang dalam mengungkapkan dan menikmati hal-hal yang megandung nilai-nilai keindahan dan artistik karya manusia.

Ketiga nilai sosial adalah suatu nilai yang terdapat pada setiap individu mewujudkan pada orang lain atau lingkungannya sehingga dapat terlihat dan terwujud suatu kerjasama yang baik dengan dan dilandasi suatu pengertian bahwa satu pekerjaan bila dikerjaka secara bersama-sama bagaimanapun beratnya akan terasa ringan.

Masyarakat suku Moronene di Kabupaten Kolaka saat ini umumnya tidak memahami dengan jelas makna simbolik apa yang sebenarnya tersirat dalam benda-benda adat yang digunakan dalam perkawinan suku moronene, sehingga nilai-nilai yang terkandung didalamnya hanya di ketahui oleh kalangan tokoh-tokoh adat saja.

Ini terlihat bahwa kurangnya inisiatif dari para pemuda atau remaja untuk mempelajari adat istiadat budayanya sendiri, yang diharapkan dapat menjadi penerus dan pemelihara kelestarian budaya lokal sebagai ciri khas suku Moronene di Sulawesi Tenggara.

Seiring dengan perkembangan zaman belakangan ini disadari atau tidak secara perlahan dalam adat perkawinan suku Moronene telah mengalami pergeseran nilai dan tata cara. Diantaranya adalah sarana dan nilainya tidak lagi berdasarkan status sosial, atau kelengkapan adat sebagaimana yang digariskan dalam hukum adat, tetapi disesuaikan dengan perkembangan zaman dan kemampuan ekonomi seseorang.

Berdasarkan dari latar belakang tersebut dan untuk menanamkan kecintaan masyarakat terhadap makna simbolik benda yang digunakan dalam prosesi adat perkawinan suku Moronene agar dapat mengerti, memahami, dan mengamalkan ajara-ajaran yang terkandung di dalamnya.

- AGAMA

Sebagian besar Suku Moronene memeluk agama Islam, seperti suku-suku lain di wilayah Sulawesi Tenggara. Agama Islam telah lama berkembang di kalangan masyarakat suku Moronene ini. Orang Moronene yang memeluk agama Islam sampai saat ini tetap mengunjungi tobu sambil membersihkan kuburan leluhur mereka ketika hari raya Idul Adha.

Kehidupan tenang masyarakat suku Moronene ini mulai terusik oleh pemerintah sejak tahun 1990 yang menetapkan wilayah adat suku Moronene sebagai kawasan taman nasional. Dengan alasan itulah aparat Pemda Sulawesi Tenggara mengerahkan polisi dan tentara menggelar Operasi Sapu Jagat untuk mengusir keluar orang-orang Moronene.

Alasannya, biar hutan tak rusak sehingga bisa dijual sebagai obyek ekoturisme dan sumber pendapatan daerah lainnya. Sekali lagi nasib rakyat, tertindas oleh pemerintah yang sewenang-wenang merampas tanah adat mereka. Padahal hak masyarakat adat atas tanah ulayat mereka telah diakui oleh Undang-Undang Kehutanan tahun 1999.

SUNACHI 30

4

Latest Tweets

SultraOnline Barisan Laskar HT Berjuang Menangkan Prabowo-Hatta di Sultra http://t.co/Rwg7ZyaLiz via @sultraonline
SultraOnline Surety Bond Jamkrindo Mitra Terpercaya Bagi Para Kontraktor http://t.co/cHGrL2fxhj

Facebook Fans